Sabtu, 21 September 2013

CONTOH CERPEN BAHASA INDONESIA

CONTOH CERPEN BAHASA INDONESIA

Maaf ya bila masih banyak kesalahan ataupun cerpen ku ini kurang menarik, soalnya aku juga masih dalam tahap belajar ^^.

Selamat membaca ^^


Indahnya Kebersamaan
            Mentari pagi masuk melalui celah jendela kamar dan menerpa wajah gadis, yang dengan terpaksa membuka matanya yang masih tertutup itu “ahh ternyata sudah pagi” gumam nya malas sambil mengucek mata dan menggeliatkan badannya. Gadis ini pun bersiap pergi ke sekolah. Setelah menyantap sarapan pagi buatan bi Inem, yang memang bertugas menjaga gadis yang bernama yura ini, sementara kedua orang tua nya sibuk dengan pekerjaan nya. Yura memang gadis yang kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya “non ke sekolah nya di anter sama mang agus aja” kata bi inem
            “Gak usah bi aku naik angkot aja” katanya sambil berlalu pergi ke sekolah.
            Ketika Yura berjalan di koridor sekolah yang memang pikirannya sedang melayang entah kemana, tiba tiba brakkk!! “Awww” ringis keduanya bersamaan, tidak sengaja dia bertabrakan dengan Lesi yang memang satu angkatan dengannya hanya saja tidak sekelas. Barang dagangan yang akan Lesi jual dan dititipkan ke tiap warung di sekolah pun menjadi berserakan.
            ”Maaf, maaf aku tidak sengaja“ kata Lesi yang masih sibuk membereskan makanan yang masih layak dan masih bisa di jual.
            “Apa?” gumam yura. Bukan kah aku yang seharusnya minta maaf? Kata Yura dalam hati
            “Sekali lagi maaf kan aku, karena aku bajumu menjadi kotor”kata Lesi dengan wajah menyesal dan sudah berdiri bersiap pergi ke kelas, yang memang beberapa menit lalu bel sekolah berbunyi menandakan pelajaran akan segera di mulai
            “Ahhh tidak apa-apa, emm maafkan aku juga ya makanan mu itu jadi kotor.” Kata Yura sambil berdiri dan merapihkan pakaian nya.
            “Tidak apa-apa itu juga karena kecerobohan ku ko, ya sudah aku pergi dulu ya” kata Lesi sembari berlalu pergi ke kelas.
            “Gawat bisa-bisa udah ada guru nih di kelas” gumam Yura sambil berlari menuju kelasnya
            Untunglah setibanya di kelas belum ada guru yang masuk. Dengan ter engah engah yura pun duduk di bangkunya. Tettt tettt tett!! Jam istirahat pun berbunyi murid murid pun berhamburan keluar kelas bersama teman temannya, berbeda dengan Yura yang memang lebih suka menyendiri walau banyak yang ingin berteman dengan nya, hanya saja Yura takut di khianati oleh temannya nanti yang memang  banyak  yang hanya ingin berteman dengan yura karena kepintaran, kecantikan, dan kekeyaan yang dimiliki oleh Yura bukan tulus ingin berteman dengan Yura.
            Sepulang sekolah Yura langsung pulang ke rumah, seperti biasa rumah nya sepi sangat sepi dengan perasaan sedih Yura pun pergi ke kamarnya. Ketika malam tiba Yura dan kedua orang tuanya yang baru pulang kerja karena besok nya weekend itu makan bersama.
            Yura  uang yang mamah kasih masih cukup? Apakah ada yang kamu perlukan?” kata mamah yura membuka percakapan setelah makan malam yang sepi itu selesai karena tidak ada satu orang pun yang memulai percakapan.
            Yura jawab mamah dong!” kata mamah nya yang sedikit menaikan volume suaranya, karena tidak ada jawaban dari Yura.
            Yura jadi anak harus sopan, jawab pertannyaan mamah mu ini kenapa ?!” kata papah yura
            Tiba-tiba Yura pun berdiri “Apakah hanya itu yang ingin kalian katakan setelah pergi selama 1 minggu ini? Apakah kalian tidak ingin menanyakan keadaan ku? Apakah kalian tidak ingin menanyakan bagaimana perasaan ku? Ahh memang seharunya aku jangan terlalu berharap kalian kan tidak peduli sama sekali sama aku yang kalian pentingkan itu hanya pekerjaan dan pekerjaan saja!” kata Yura yang meninggikan suaranya sambil menahan air mata dan emosi nya itu. Yura pun pergi berlalu ke kamar.
            Pagi nya karena tidak ingin bertemu dengan  kedua orang tuanya, Yura pun pergi dari rumah tidak tentu memang tujuan nya tapi dia tetap melangkah kan kakinya keluar rumah. Akhirnya Yura sampai di alun alun kota, banyak orang yang berlalu lalang ada yang sedang berolah raga pagi maupun berjualan. Tiba-tiba matanya menangkap sesosok orang yang di kenal nya, ya itu Lesi teman nya yang kemarin secara tidak sengaja di tabrak nya itu sedang berjualan di sini. Yura pun menghampiri Lesi.
            “Hai Lesi, lagi jualan apa nih?” sapa Yura basa basi sambil melihat apa yang di dagangkan Lesi
            “Eh Yura biasa jualan gorengan, lagi olah raga ya?” Tanya Lesi Karena memang aneh biasanya orang yang pergi ke alun-alun di hari minggu pagi ini untuk ber olah raga tapi baju yang Yura pakai bukan lah baju yang biasa di pakai orang untuk ber olah raga.
            “Hehehe enggak lagi jalan jalan aja” kata Yura asal
Yura pun mengobrol banyak dengan Lesi di alun alun ini sambil menunggui Lesi berjualan, yang karena memang Yura tidak tahu harus pergi kemana.
            “Kamu emang suka jualan di sini ya?” Tanya yura kemudian.
            “Ahh iya semenjak kedua orang tuaku meninggal aku memang jadi tulang punggung keluarga, semenjak itu pula aku berjualan di sini” katanya dengan suara yang sedih. Lesi dengan senang hati dan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan Yura yang seperti penasaran akan dirinya.
            Di perjalanan pulang Yura pun merenungkan percakapan nya tadi dengan Lesi.” Bagaimana Lesi dengan susah payah mencari uang untuk membiayai hidup nya dan adiknya. Bagaimana Lesi bekerja sampai sampai kehilangan masa mudanya yang tidak seperti gadis lain seusianya. Mungkin rasa lelah itu juga yang dirasakan olah kedua orang tuanya. Memang untuk siapa selama ini orang tua nya banting tulang bekerja kalau bukan untuk aku anak semata wayang nya itu. Memang selama ini pasilitas yang aku miliki berkat siapa? Itu semua berkat orang tua ku. Ahh aku menjadi merasa bersalah kepada orang tuaku, karena telah marah sama mereka.” Katanya dalam hati. Semenjak itu pula Lesi menjadi sahabat baik Yura.
Sepulang nya di rumah yura pun di sambut oleh kedua orang tuanya.
            Yura kamu dari mana saja? mamah khawatir sama kamu” kata mamah sambil merangkul Yura
            “Kamu baik-baik aja kan nak? Maafin papah sama mamah ya karena kurang merhatiin kamu, papah sama mamah janji akan lebih perhatian dan meluangkan lebih banyak waktu lagi buat kamu” kata papah Yura.
Yura pun tidak bisa menahan air matanya lagi dan langsung memeluk kedua orang tuanya ini.
            “Mah pah seharusnya yura yang minta maaf karena udah marah sama mamah papah, maafin Yura ya mah” mereka pun berpelukan. Mereka pun bercanda bersama menikmati kebersamaan mereka dan berjanji satu sama lain akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Kehidupan Yura pu berubah sekarang orang tua nya sangat perhatian pada Yura dan Yura pun mulai bergaul dengan teman-teman nya  memang ternyata banyak teman nya yang tidak seperti pikiran Yura, yang berteman dengan tulus dengan Yura bukan karena ingin apa-apa dari Yura.

T A M A T



0 komentar :

Posting Komentar