CONTOH CERPEN BAHASA INDONESIA
Maaf ya bila masih banyak kesalahan ataupun cerpen ku ini kurang menarik, soalnya aku juga masih dalam tahap belajar ^^.
Selamat membaca ^^
Indahnya Kebersamaan
Mentari
pagi masuk melalui celah jendela kamar dan menerpa wajah gadis, yang dengan
terpaksa membuka matanya yang masih tertutup itu “ahh ternyata sudah pagi”
gumam nya malas sambil mengucek mata dan menggeliatkan badannya. Gadis ini pun
bersiap pergi ke sekolah. Setelah menyantap sarapan pagi buatan bi Inem, yang
memang bertugas menjaga gadis yang bernama yura ini, sementara kedua orang tua
nya sibuk dengan pekerjaan nya. Yura memang gadis yang kurang kasih sayang dari
kedua orang tuanya “non ke sekolah nya di anter sama mang agus aja” kata bi
inem
“Gak usah
bi aku naik angkot aja” katanya sambil berlalu pergi ke sekolah.
Ketika Yura
berjalan di koridor sekolah yang memang pikirannya sedang melayang entah
kemana, tiba tiba brakkk!! “Awww” ringis keduanya bersamaan, tidak sengaja dia
bertabrakan dengan Lesi yang memang satu angkatan dengannya hanya saja tidak
sekelas. Barang dagangan yang akan Lesi jual dan dititipkan ke tiap warung di
sekolah pun menjadi berserakan.
”Maaf, maaf
aku tidak sengaja“ kata Lesi yang masih sibuk membereskan makanan yang masih
layak dan masih bisa di jual.
“Apa?”
gumam yura. Bukan kah aku yang seharusnya minta maaf? Kata Yura dalam hati
“Sekali
lagi maaf kan aku, karena aku bajumu menjadi kotor”kata Lesi dengan wajah
menyesal dan sudah berdiri bersiap pergi ke kelas, yang memang beberapa menit
lalu bel sekolah berbunyi menandakan pelajaran akan segera di mulai
“Ahhh tidak
apa-apa, emm maafkan aku juga ya makanan mu itu jadi kotor.” Kata Yura sambil berdiri
dan merapihkan pakaian nya.
“Tidak apa-apa
itu juga karena kecerobohan ku ko, ya sudah aku pergi dulu ya” kata Lesi
sembari berlalu pergi ke kelas.
“Gawat
bisa-bisa udah ada guru nih di kelas” gumam Yura sambil berlari menuju kelasnya
Untunglah
setibanya di kelas belum ada guru yang masuk. Dengan ter engah engah yura pun
duduk di bangkunya. Tettt tettt tett!! Jam istirahat pun berbunyi murid murid
pun berhamburan keluar kelas bersama teman temannya, berbeda dengan Yura yang
memang lebih suka menyendiri walau banyak yang ingin berteman dengan nya, hanya
saja Yura takut di khianati oleh temannya nanti yang memang banyak yang hanya ingin berteman dengan yura karena
kepintaran, kecantikan, dan kekeyaan yang dimiliki oleh Yura bukan tulus ingin
berteman dengan Yura.
Sepulang
sekolah Yura langsung pulang ke rumah, seperti biasa rumah nya sepi sangat sepi
dengan perasaan sedih Yura pun pergi ke kamarnya. Ketika malam tiba Yura dan
kedua orang tuanya yang baru pulang kerja karena besok nya weekend itu makan
bersama.
“Yura uang yang mamah kasih masih cukup? Apakah ada
yang kamu perlukan?” kata mamah yura membuka percakapan setelah makan malam
yang sepi itu selesai karena tidak ada satu orang pun yang memulai percakapan.
“Yura jawab mamah dong!” kata mamah nya
yang sedikit menaikan volume suaranya, karena tidak ada jawaban dari Yura.
“Yura jadi anak harus sopan, jawab
pertannyaan mamah mu ini kenapa ?!” kata papah yura
Tiba-tiba
Yura pun berdiri “Apakah hanya itu yang
ingin kalian katakan setelah pergi selama 1 minggu ini? Apakah kalian tidak
ingin menanyakan keadaan ku? Apakah kalian tidak ingin menanyakan bagaimana
perasaan ku? Ahh memang seharunya aku jangan terlalu berharap kalian kan tidak
peduli sama sekali sama aku yang kalian pentingkan itu hanya pekerjaan dan pekerjaan
saja!” kata Yura yang meninggikan suaranya sambil
menahan air mata dan emosi nya itu. Yura pun pergi berlalu ke kamar.
Pagi nya
karena tidak ingin bertemu dengan kedua orang
tuanya, Yura pun pergi dari rumah tidak tentu
memang tujuan nya tapi dia tetap melangkah kan kakinya keluar rumah. Akhirnya Yura sampai di alun alun kota, banyak
orang yang berlalu lalang ada yang sedang berolah raga pagi maupun berjualan.
Tiba-tiba matanya menangkap sesosok orang yang di kenal nya, ya itu Lesi teman nya yang kemarin secara tidak
sengaja di tabrak nya itu sedang berjualan di sini. Yura pun menghampiri Lesi.
“Hai Lesi,
lagi jualan apa nih?” sapa Yura basa basi sambil melihat apa yang di dagangkan
Lesi
“Eh Yura
biasa jualan gorengan, lagi olah raga ya?” Tanya Lesi Karena memang aneh
biasanya orang yang pergi ke alun-alun di hari minggu pagi ini untuk ber olah
raga tapi baju yang Yura pakai bukan lah baju yang biasa di pakai orang untuk
ber olah raga.
“Hehehe enggak
lagi jalan jalan aja” kata Yura asal
Yura pun mengobrol banyak dengan Lesi di alun alun ini
sambil menunggui Lesi berjualan, yang karena memang Yura tidak tahu harus pergi
kemana.
“Kamu emang
suka jualan di sini ya?” Tanya yura kemudian.
“Ahh iya
semenjak kedua orang tuaku meninggal aku memang jadi tulang punggung keluarga,
semenjak itu pula aku berjualan di sini” katanya dengan suara yang sedih. Lesi
dengan senang hati dan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan Yura yang seperti
penasaran akan dirinya.
Di
perjalanan pulang Yura
pun merenungkan percakapan nya tadi dengan Lesi.” Bagaimana Lesi dengan susah payah mencari uang
untuk membiayai hidup nya dan adiknya.
Bagaimana Lesi bekerja sampai sampai kehilangan masa mudanya yang tidak seperti
gadis lain seusianya. Mungkin rasa lelah itu juga yang dirasakan olah kedua
orang tuanya. Memang untuk siapa selama ini orang tua nya banting tulang
bekerja kalau bukan untuk aku anak semata wayang nya itu. Memang selama ini
pasilitas yang aku miliki berkat siapa? Itu semua berkat orang tua ku. Ahh aku
menjadi merasa bersalah kepada orang tuaku, karena telah marah sama mereka.”
Katanya dalam hati. Semenjak itu pula Lesi menjadi sahabat baik Yura.
Sepulang nya di rumah yura pun di sambut oleh kedua orang
tuanya.
“ Yura kamu dari mana saja? mamah khawatir
sama kamu” kata mamah sambil merangkul Yura
“Kamu
baik-baik aja kan nak? Maafin papah sama mamah ya karena kurang merhatiin kamu,
papah sama mamah janji akan lebih perhatian dan meluangkan lebih banyak waktu
lagi buat kamu” kata papah Yura.
Yura pun tidak bisa menahan air matanya lagi dan langsung
memeluk kedua orang tuanya ini.
“Mah pah
seharusnya yura yang minta maaf karena udah marah sama mamah papah, maafin Yura ya mah” mereka pun berpelukan.
Mereka pun bercanda bersama menikmati kebersamaan mereka dan berjanji satu sama
lain akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Kehidupan Yura pu berubah sekarang
orang tua nya sangat perhatian pada Yura dan Yura pun mulai bergaul dengan
teman-teman nya memang ternyata banyak
teman nya yang tidak seperti pikiran Yura, yang berteman dengan tulus dengan Yura
bukan karena ingin apa-apa dari Yura.
T A M
A T
0 komentar :
Posting Komentar